Pages

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Dec 23, 2017

Starry Starry Night



Merupakan sebuah filem biopik animasi berkisarkan kehidupan dan misteri disebalik kematian pelukis dari belanda terkenal sekitar tahun 1890. Vincent van Gogh bukan sahaja terkenal dengan karya lukisan minyaknya malah kisah tragedi yang menimpa kepadanya. Seorang pelukis yang tidak dihargai karyanya sepanjang hidup namun menjadi terkenal dan paling berpengaruh setelah kematiannya.

Usaha pembikinan filem ini mengunakan 65,000 buah lukisan minyak lukisan tangan sepenuhnya  oleh 125 pelukis dari seluruh dunia dengan mengunakan impasto iaitu kaedah pelukis asal itu sendiri. Menarik lagi perjalanan filem ini dihidupkan lagi dengan mengunakan kombinasi animasi kaedah rotoskop digabungkan dengan landskap dan figura daripada lukisan asal pelukis. Kualiti visual lukisan yang unik diasaskan dengan lukisan minyak mengerakkan watak dan suasana dalam lukisan Van Gogh.


Secara peribadi, filem ini merupakan filem terbaik yang ditunggu-tunggu sepanjang tahun 2017, disebalik kekecewaan terhadap filem-filem 2017 lain yang menarik perhatian aku dengan teaser dan rumor yang hebat pada mulanya.

Filem yang mesti tonton kepada peminat filem bertemakan animasi/drama/biografi/seni lukisan.


Don Mclean - Vincent (Starry Starry Night)

Starry, starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night

You took your life, as lovers often do
But I could've told you Vincent
This world was never meant for
One as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frame-less heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in ragged clothes
The silver thorn of bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will..

Rujukan filem lain :-

Lust for life (1956)
Van Gogh : Brush with genius (2009)


“We cannot speak other than by our paintings”
Ditulis oleh Van Gogh sendiri seminggu sebelum membunuh diri/dibunuh.


Jan 17, 2013

Garisan Rentakku

  Mungkin sebagai bingkisan dari petikan yang lalu. Muzik merupakan nada beralun yang digunakan sejak berabad lamanya sebagai alat dalam mewarnai emosi, bagiku muzik juga merupakan isyarat bermesej atau komunikasi yang paling mudah untuk diserap masuk ke dalam diri seseorang, sekiranya ia benar-benar kena pada frekuensi manusia pada ketika itu, situasi itu, emosi itu ataupun mana-mana pemboleh ubah yang lain. Muzik adalah terapi dan sesuai digunakan untuk mengubah mod seseorang dan berkebolehan dalam memanapulasi seseorang dari segi psikologinya.

  Apa kaitan aku dengan muzik, bagaimana penerimaanku dan pandanganku pada muzik ,dimanakah kedudukan muzik dalam hidup aku. Sejarahku dengan muzik tidaklah begitu epik tetapi sekadar biasa-biasa saja,sekadar berkongsi.. kalau mengikut salsiah keturunan aku Abah aku dan Abg Gee (abang saudara) pernah juga ada sedikit terlibat melalui band mereka sendiri ( salah satu zaman Battle of the Band). Pak aku lebih kepada gitaris dan mungkin vokalis manakala abg gee drummer bagi geng masing.

  Aku turut juga pernah berekspermentasi dalam benda bernada ini pada suatu ketika dulu, sejarah lama yang penuh warna dan garisan takdirnya tersendiri. Aku pernah menyanyikan sebuah lagu rekaanku sendiri secara spontan dihadapan seorang anak gadis budak perempuan berjiran denganku ketika aku Darjah 2, dengan wajah yang riang dan terkija-kija..  jika diingat teramat memalukan akan apa yang aku lontarkan ketika, meremang bulu roma ku jika diingat sekarang..
masihku ingat lagi tajuknya..
Tidaklah berunsur romantika tetapi lebih kepada lagu pop/balada pada zaman ketika itu atau boleh disamakan dengan dendangan Anuar Zain dan Rem.


  Aku pernah menyampaikan sebuah puisiku sendiri (ble kait dengan muzik?) dihadapan beratus orang pelajar yang pada ketika itu diriku terasa seperti ada seorang yang berbadan besar dan kuat datang mengoncang pentas hingga bergegar seluruh sosok tubuhku ketika itu. Aku kuatkan diri cuba menghabiskan rangkap demi rangkap dengan berbekalkan tips "angap ja suma orang kat depan hang tu pakai spender (cawat) ja" dan "angap ja depa suma tu bodoh", yang padaku tidaklah berkesan sekalipun.. Sigh..

Bersambung..

Jul 3, 2012

Terapi Musik dalam Peradaban Islam

"Music is the creaking of the portal to Paradise "

Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tidak hanya sekadar mengandungi unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Israq al-Kindi (801873 M) dan al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.

Sebenarnya apa yang disebut dengan terapi musik? Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakukan seorang terapi dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesihatan pesakitnya. Sejak bila peradaban Islam mengembangkan terapi musik? Dan benarkah musik boleh menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit?

R Saoud dalam tulisannya bertajuk The Arab Contribution to the Music of the Western World menyebut al-Kindi sebagai psikologi Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengubatan pada musik.

Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tidak hanya sekadar mengandung unsur hiburan. Para pemusik Islam legendari seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Israq al-Kindi (801873 M) dan al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengubatan atau terapi.

''Dengan terapi musik, al-Kindi mencuba untuk menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total,'' kata Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni al-Farabi (872-950 M). Alpharabius begitu peradaban Barat biasa menyebutnya menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang berjudul Meanings of Intellect .

Amber Haque (2004) dalam tulisannya bertajuk Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists", Journal of Religion and Health mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi telah membahasakan kesan-kesan musik terhadap jiwa.

Terapi musik berkembang semakin pesat di dunia Islam pada era Khalifah Turki Usmani berkuasa. Prof Nil Sari, sejarawan kedoktoran Islam dari Fakultas Kedokteran University Cerrahpasa Istanbul mengungkap perkembangan terapi musik di masa kejayaan Turki Usmani.

Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim seperti al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. ''Mereka antara lain; Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723) serta Hasim Bey (abad ke-19 M).

''Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Ottoman itu telah melakukan penyelidikan mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan,'' papar Prof Nil Sari. Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan kesan musik pada pemikiran dan badan manusia.

Tak heran, jika Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade telah mengusulkan agar musik dimasukkan dalam pendidikan kedoktoran. Keduanya berpendapat, seorang doktor yang baik harus melalui latihan musik. Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universiti-universiti hingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteron pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.

Teori Terapi Musik

Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini bahwa alam diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata ''ku'' / ''kok'' (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya alam berasal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis dalam Al quran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi.

''...Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah'. Lalu jadilah ia.'' (QS: al-baqarah:117). Setelah Islam bersemi di Turki, masyarakat negeri itu, masih tetap meyakini kekuatan suara. Inilah yang membuat peradaban Islam di era Turki Usmani menyakini bahwa musik dapat menjadi sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan antara badan, pemikiran dan emosi sehingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman Ottoman menyakini bahwa pesakit yang menderita penyakit tertentu atau emosi seseorang dengan temperamen tertentu dipengaruhi oleh ragam musik tertentu. ''Para ahli musik di era Turki Usmani menyatakan, tahap (jenis melodi) tertentu memiliki kegunaan pengubatan tertentu juga,'' papar Prof Nil Sari.

Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berkembang di masyarakat Turki Usmani. Sebanyak 12 diantaranya bisa digunakan sebagai alat terapi. Menurut Prof Nil Sari, dari teks-teks tua dapat disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengubati penyakit tetentu atau perasaan tertentu.

Pada era kejayaan Kesultanan Turki Usmani, terapi musik biasanya digunakan untuk beberapa tujuan, seperti; pengubatan kesihatan mental; perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni seseorang yakni menyeimbangkan kesihatan antara badan, fikiran dan emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur, sedih, bahagia dan memacu intelijensia.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki Usmani meyakini bahwa musik memiliki kekuatan dalam proses alam. Musik dapat berfungsi meningkatkan mood dan emosi secara keseluruhan. Uniknya, para ilmuwan di era Ottoman sudah mampu menetapkan jenis musik tertentu untuk penyekit tertentu. Misalnya, jenis musik huseyni dapat mengubati demam. Sedangkan, jenis musik zengule dan irak untuk mengobati meningitis.

Masyarakat Barat baru mengenal terapi musik pada abad ke-17 M. Adalah Robert Burton lewat karya klasiknya berjudul The Anatomy of Melancholy yang mengembangkan terapi musik di Barat. Menurut Burton, musik dan menari dapat menyembuhkan sakit jiwa, khususnya melankolia.

Malah, masyarakat Amerika Serikat (AS) baru mengenal terapi musik sekitar 1944. Pada saat itu, Michigan State University membuka program sarjana teapi musik. Sejak 1998, di Amerika telah berdiri The American Music Therapy Association (AMTA). Organisasi ini merupakan gabungan dari National Association for Music Therapy (NAMT, berdiri tahun 1950) dan the American Association for Music Therapy (AAMT, berdiri 1971).

Terapi musik merupakan salah satu sumbangan peradaban Islam dalam dunia kesihatan dan kedoktoran. Di era modern ini, musik tetap menjadi salah satu alat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Terapi musik menjadi salah satu bukti pencapaian para ilmuwan Muslim di era keemasan.


Musisi Muslim Pencetus Terapi Musik

Al-Kindi
al-Kindi atau al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima waktu khalifah dilaluinya, yakni al-Amin (809-813), al-Ma'mun (813-833), al-Mu'tasim, al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).

Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedoktoran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu sering menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani.

Ketika Khalifah al-Ma'mun habis usia dan digantikan putranya, al-Mu'tasim, posisi al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peranan yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalis itu ditetapkan sebagai fahaman rasmi kerajaan.

Menurut al-Nadhim, selama mengkaji dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara beberapa buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logik sebanyak sembilan judul dan fisikal 12 judul.


Al-Farabi
Second teacher alias mahaguru kedua. Begitulah Peter Adamson pengajar filsafat di King's College London, Inggris, menjuluk al-Farabi sebagai pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles: pemikir besar zaman Yunani.

Sosok dan pemikiran al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat.

''Ilmu Logika al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,'' ujar Carra de Vaux. Tak heran, bila para intelektual merasa berutang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental mempengaruhi fikiran-fikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rush.

Al-Farabi atau masyarakat Barat mengenalnya dengan sebutan Alpharabius memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi. Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya.

Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya Ibnu Sina.Tak heran, bila muncul beragam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe'a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabi berasal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berasal dari sebuah keluarga Parsi.



Sumber : Republika Newsroom


P.S: Asal dari teks Indonesia lalu diterjemahkan sedikit..